TUGAS BULAN I
1. PENALARAN
ILMIAH
2. BERFIKIR
DEDUKTIF
3. BERFIKIR
INDUKTIF
NAMA : ANISAH WULANDARI
KELAS : 3EB07
NPM : 21213084
DAFTAR
ISI
I.
PENALARAN ILMIAH
…………………………………………………1
1. Pengertian
penalaran ilmiah …………………………………………..1
2. Ciri-
ciri penalaran ……………………………………………………1
3. Unsur
penalaran penulisan ilmiah …………………………………….1
4. Jenis
penalaran ………………………………………………………..2
II.
BERPIKIR DEDUKTIF 2
1. Pengertian
perpikir deduktif 2
2. Macam-macam
penalaran deduktif
a. Silogisme
b. Entimen
III.
PERPIKIR INDUKTIF
1. Pengertian
perpikir induktif
2. Proses
induktif
a. Generalisasi
b. Anologi
c. Hubungan
sebab-akibat
PENALARAN
ILMIAH
1. Pengertian Penalaran
Menurut Minto Rahayu, (2007 : 35),
“Penalaran adalah proses berpikir yang sistematis untuk memperoleh kesimpulan
atau pengetahuan yang bersifat ilmiah dan tidak ilmiah. Bernalar akan membantu
manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran
dan menghindari kekeliruan. Dalam segala aktifitas berpikir dan bertindak,
manusia mendasarkan diri atas prinsip penalaran. Bernalar mengarah pada berpikir
benar, lepas dari berbagai prasangka emosi dan keyakinan seseorang, karena
penalaran mendidik manusia bersikap objektif, tegas, dan berani, suatu
sikap yang dibutuhkan dalam segala kondisi”.
Dalam sumber yang sama, Minto
Rahayu, (2007 : 35), “Penalaran adalah suatu proses berpikir yang logis dengan
berusaha menghubung-hubungkan fakta untuk memperoleh suatu
kesimpulan.Fakta adalah kenyataan yang dapat diukur dan
dikenali. Untuk dapat bernalar, kita harus mengenali fakta dengan baik dan
benar. Fakta dapat dikenali melalui pengamatan, yaitu kegiatan
yang menggunakan panca indera, melihat, mendengar, membaui, meraba, dan merasa.
Dengan mengamati fakta, kita dapat menghitung, mengukur, menaksir, memberikan
ciri-ciri, mengklasifikasikan, dan menghubung-hubungkan. Jadi, dasar berpikir
adalah klasifikasi”.
Sedangkan Widjono, (2007 : 209),
mengungkapkan penalaran dalam beberapa definisi, yaitu:
1) Proses
berpikir logis, sistematis, terorganisasi dalam urutan
yang saling berhubungan sampai dengan simpulan.
2) Menghubung-hubungkan fakta atau data sampai dengan
suatu simpulan.
3) Proses menganalisis suatu topik sehingga menghasilkan suatu
simpulan atau pengertian baru.
4) Dalam karangan terdiri dari dua variabel atau lebih, penalaran
dapat diartikan mengkaji, membahas, atau menganalisis dengan menghubungkan
variabel yang dikaji sampai menghasilkan suatu derajat hubungan dan simpulan.
5) Pembahasan suatu masalah sampai menghasilkan suatu simpulan yang
berupa pengetahuan atau pengertian baru.
Jadi, dari pengertian diatas dapat
disimpulkan bahwa penalaran adalah proses pemikiran yang logis untuk memperoleh
kesimpulan berdasarkan fakta yang relevan (sebenarnya). Atau dengan kata lain,
penalaran adalah proses penafsiran fakta sebagai dasar untuk menghasilkan dan
menarik kesimpulan.
2. Unsur Penalaran Penulisan Ilmiah
Menurut Widjono, (2007 : 210), unsur
penalaran penulisan ilmiah adalah sebagai berikut:
1) Topik yaitu
ide sentral dalam bidang kajian tertentu yang spesifik dan berisi
sekurang-kurangnya dua variabel.
2) Dasar pemikiran,
pendapat, atau fakta dirumuskan dalam bentuk proposisi yaitu kalimat pernyataan
yang dapat dibuktikan kebenarannya atau kesalahannya.
3) Proposisi
mempunyai beberapa jenis, antara lain:
(a) Proposisi
empirik yaitu proposisi berdasarkan fakta.
(b) Proposisi
mutlak yaitu pembenaran yang tidak memerlukan pengujian untuk
menyatakan benar atau salahnya.
(c) Proposisi
hipotetik yaitu persyaratan huungan subjek dan predikat yang
harus dipenuhi.
(d) Proposisi
kategoris yaitu tidak adanya persyaratan hubungan subjek dan predikat.
(e) Proposisi
positif universal yiatu pernyataan positif yang mempunyai kebenaran
mutlak.
(f) Proposisi positif
parsial yaitu pernyataan bahwa sebagian unsur pernyataan tersebut
bersifat positif.
(g) Proposisi
negatif universal, kebalikan dari proposisi positif universal.
(h) Proposisi
negatif parsial, kebalikan dari proposisi negatif parsial.
4) Proses
berpikir ilmiah yaitu kegiatan yang dilakukan secara sadar, teliti,
dan terarah menuju suatu kesimpulan.
5) Logika yaitu metode
pengujian ketepatan penalaran, penggunaan argumen (alasan), argumentasi
(pembuktian), fenomena, dan justifikasi (pembenaran).
6) Sistematika yaitu
seperangkat proses atau bagian-bagian atau unsur-unsur proses berpikir ke dalam
suatu kesatuan.
7) Permasalahan yaitu
pertanyaan yang harus dijawab (dibahas) dalam karangan.
8) Variabel yaitu
unsur satuan pikiran dalam sebuah topik yang akan dianalisis.
9) Analisis (pembahasan,
penguraian) dilakukan dengan mengidentifikasi, mengklasifikasi, mencari
hubungan (korelasi), membandingkan, dan lain-lain.
10) Pembuktian (argumentasi)
yaitu proses pembenaran bahwa proposisi itu terbukti kebenarannya atau kesalahannya.
Pembuktian ini harus disertai dukungan yang berupa: metode analisis baik yang
bersifat manual maupun yang berupa software. Selain itu, pembuktian
didukung pula dengan data yang mencukupi, fakta, contoh, dan hasil analisis
yang akurat.
11) Hasil yaitu
akibat yang ditimbulkan dari sebuah analisis induktif atau deduktif.
12) Kesimpulan (simpulan) yaitu
penafsiran atas hasil pembahasan, dapat berupa implikasi atau inferensi.
3. Jenis Penalaran
Minto Rahayu, (2007 : 41), penalaran
dapat dibedakan dengan cara induktif dan deduktif.
1) Penalaran
induktif
Ialah proses berpikir yang bertolak dari satu atau
sejumlah fenomena atau gejala individual untuk menurunkan suatu kesimpulan
(inferesi) yang berlaku umum.
Proses induksi dapat dibedakan menjadi:
(a) Generalisasi ialah
proses berpikir berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat
tertentu untuk menarik kesimpulan umum mengenai semua atau sebagian dari gejala
serupa.
(b) Analogi ialah
suatu proses berpikir untuk menarik kesimpulan atau inferensi tentang kebenaran
suatu gejala khusus berdasarkan beberapa gejala khusus lain yang memiliki
sifat-sifat atau ciri-ciri esensial penting yang bersamaan.
(c) Sebab
akibat, prinsip umum hubungan sebab akibat menyatakan bahwa semua peristiwa
harus ada penyebabnya.
2) Penalaran
deduktif
Ialah proses berpikir yang bertolak dari prinsip,
hukum, putusan yang berlaku umum tentang suatu hal atau gejala atas prinsip
umum tersebut ditarik kesimpulan tentang sesuatu yang khusus, yang merupakan
bagian dari hal atau gejala diatas.
Ada dua jenis
metode dalam menalar yaitu Deduktif dan Induktif.
A . PENALARAN DEDUKTIF
Penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa
umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada
suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.
Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional,
instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala
terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan
selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran
deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu
gejala.
Deduksi ialah proses pemikiran yang berpijak pada pengetahuan yang lebih
umum untuk menyimpulkan pengetahuan yang lebih khusus. Bentuk
standar dari penalaran deduktif adalah silogisme, yaitu proses penalaran di
mana dari dua proposisi (sebagai premis) ditarik suatu proposisi baru (berupa
konklusi).
Penarikan kesimpulan deduktif dibagi menjadi dua, yaitu penarikan langsung
dan tidak langsung.
1. Penarikan
simpulan secara langsung
Simpulan secara langsung adalah penarikan simpulan yang ditarik dari satu
premis. Premis yaitu prosisi tempat menarik simpulan.
Simpulan secara langsung:
1. Semua S adalah P. (premis)
Sebagian P adalah S. (simpulan)
Contoh: Semua manusia mempunyai rambut. (premis)
Sebagian yang mempunyai rambut adalah manusia. (simpulan)
2. Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh: Semua pistol adalah senjata berbahaya. (premis)
Tidak satu pun pistol adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan)
3. Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (simpulan)
Contoh: Tidak seekor pun gajah adalah jerapah. (premis)
Semua gajah adalah bukan jerapah. (simpulan)
4. Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu-pun S adalah tak P. (simpulan)
Tidak satu-pun tak P adalah S. (simpulan)
Contoh: Semua kucing adalah berbulu. (premis)
Tidak satu pun kucing adalah takberbulu. (simpulan)
Tidak satupun yang takberbulu adalah kucing. (simpulan)
2. Penarikan
simpulan secara tidak langsung
Untuk penarikan simpulan secara tidak langsung diperlukan dua premis
sebagai data. Dari dua premis tersebut akan menghasilkan sebuah simpulan.
Premis yang pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua
adalah premis yang bersifat khusus.
Jenis penalaran deduksi dengan penarikan simpulan tidak langsung, yaitu:
1. Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif.
Silogisme disusun dari dua proposi (pernyataan) dan sebuah konklusi
(kesimpulan).
Contohnya:
- Semua
manusia akan mati
Ani adalah manusia
Jadi, Ani akan mati. (simpulan)
- Semua
manusia bijaksana
Semua dosen adalah manusia
Jadi, semua dosen bijaksana. (simpulan)
2. Entimen
Entimen adalah penalaran deduksi secara tidak langsung. Dan dapat dikatakan
silogisme premisnya dihilangkan atau tidak diucapkan karena sudah sama-sama
diketahui.
Contohnya :
- Proses
fotosintesis memerlukan sinar matahari
Pada malam hari tidak ada sinar matahari
Pada malam hari tidak mungkin ada proses fotosintesis.
- Semua
ilmuwan adalah orang cerdas
Anto adalah seorang ilmuwan.
Jadi, Anto adalah orang cerdas.
Jadi, dengan demikian silogisme dapat dijadikan entimen. Sebaliknya,
entimen juga dapat dijadikan silogisme.
Hukum-hukum Silogisme
a. Prinsip-prinsip Silogisme
kategoris mengenai term:
1. Jumlah term tidak boleh kurang atau
lebih dari tiga
2. Term menengah
tidak boleh terdapat dalam kesimpulan
3. Term subyek
dan term predikat dalam kesimpulan tidak boleh lebih luas
daripada dalam premis.
4. Luas term menengah sekurang-kurangnya
satu kali universal.
b. Prinsip-prinsip silogisme
kategoris mengenai proposisi.
1. Jika kedua premis afirmatif, maka kesimpulan harus
afirmatif juga.
2. Kedua premis tidak boleh sama-sama negatif.
3. Jika salah satu premis negatif, kesimpulan harus
negatif juga (mengikuti proposisi yang paling lemah)
4. Salah satu premis harus universal, tidak boleh
keduanya pertikular.
Bentuk Silogisme Menyimpang
Dalam praktek penalaran tidak semua silogisme menggunakan bentuk standar,
bahkan lebih banyak menggunakan bentuk yang menyimpang. Bentuk penyimpangan ini
ada bermacam-macam. Dalam logika, bentuk-bentuk menyimpang itu harus
dikembalikan dalam bentuk standar.
Contoh:
“Mereka yang akan dipecat semuanya adalah orang yang bekerja tidak
disiplin. Kamu kan bekerja penuh disiplin. Tak usah takut akan dipecat”.
Bentuk standar:
“Semua orang yang bekerja disiplin bukanlah orang yang akan dipecat.
Kamu adalah orang yang bekerja disiplin.
Kamu bukanlah orang yang akan dipecat”.
B . PENALARAN INDUKTIF
Untuk memperoleh pengetahuan ilmiah dapat digunakan dua jenis penalaran,
yaitu Penalaran Deduktif dan Penalaran Induktif. Untuk minggu ini saya akan
mencoba membahas tentang penalaran Induktif.
Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus
sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau
pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan
kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan
penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati
lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari
suatu gejala. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak
tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci
sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.
Di dalam penalaran induktif terdapat tiga bentuk penalaran induktif, yaitu
generalisasi, analogi dan hubungan kausal.
Jenis-jenis penalaran induktif antara lain :
1. Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
Contohnya :
• Luna Maya adalah bintang sinetron, dan ia berparas cantik.
• Nia Ramadhani adalah bintang sinetron, dan ia berparas cantik.
• Luna Maya adalah bintang sinetron, dan ia berparas cantik.
• Nia Ramadhani adalah bintang sinetron, dan ia berparas cantik.
Generalisasi:
Semua bintang sinetron berparas cantik.
Pernyataan “semua bintang sinetron berparas cantik” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Semua bintang sinetron berparas cantik.
Pernyataan “semua bintang sinetron berparas cantik” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya:
Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.
Omas juga bintang iklan, tetapi tidak berparas cantik.
2. Analogi
Cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Analogi mempunyai 4 fungsi,antara lain :
a . Membandingkan beberapa orang yang memiliki sifat kesamaan.
b . Meramalkan kesaman.
c . Menyingkapkan kekeliruan.
d . klasifikasi
Cara penarikan penalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Analogi mempunyai 4 fungsi,antara lain :
a . Membandingkan beberapa orang yang memiliki sifat kesamaan.
b . Meramalkan kesaman.
c . Menyingkapkan kekeliruan.
d . klasifikasi
Contoh analogi :
Demikian pula dengan manusia yang tidak berilmu dan tidak berperasaan, ia akan sombong dan garang. Oleh karena itu, kita sebagai manusia apabila diberi kepandaian dan kelebihan, bersikaplah seperti padi yang selalu merunduk.
Demikian pula dengan manusia yang tidak berilmu dan tidak berperasaan, ia akan sombong dan garang. Oleh karena itu, kita sebagai manusia apabila diberi kepandaian dan kelebihan, bersikaplah seperti padi yang selalu merunduk.
DAFTAR
PUSAKA
Sumber:
http://kuikkiuk.blogspot.com/2013/04/penalaran-deduktif-induktif.html